FAKTOR-FAKTOR PENDIDIKAN



Dwi Wahyu Nur Arifin
Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Madura
Jalan Raya Panglegur KM 4 Pamekasan Kode Pos 69371
E-mail: ayuraden6@gmail.com


Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi SD guru di sekolah, dan upaya yang dilakukan oleh guru sekolah dasar dan dalam penelitian iniadalah deskriptif. Subjek penelitian adalah guru sekolah dasar. Data diperoleh dengan mendistribusikan instrumen dalam bentuk kuisioner. Hasil kuisioner itu didistribusikan kepada 31 guru sekolah dasar dan menunjukkan bahwa banyak dari hambatan yang dialami oleh guru. Hambatan yang dialami oleh guru sekolah dasar mengalami kendala dalam mempersiapkan pelajaran, guru mengalami hambatan dalam menentukan metode dan media yang digunakan dalam pembelajaran, guru mengalami hambatan dalam menentukan evaluasi yang digunakan dalam pembelajaran.
Kata kunci: Faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan, peran pendidikan dalam kehidupan bangsa

Pendahuluan 
Pendidikan mempunyai peran dalam perkembangan suatu bangsa. Pendidika mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Guru mempunyai peranan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Undang-undang No 14 Tahun 2005 pasal 1 menyatakan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih menilai, dan mengevaluasi peserta didik pad pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal. Pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru mampu mendidik dan menumbuhkan kedewasaan siswa. Guru mampu mengajar dengan mengatur dan menciptakan kondisi lingkungan sehingga siswa dapat melakukan kegiatan pembelajaran. Membimbing adalah usaha yang dilakukan guru untuk mengantarkan siswa kearah kedewasaan baik secara jasmani dan rohani. Selain membimbing, guru juga diharapkan mampu mengarahkan, melatih serta mengevaluasi siswa (peserta didik). Guru dalam proses pembelajaran  di kelas dipandang dapat memainkan peranan penting terutama dalam membantu peserta didik untuk membangun sikap positif, membangkitkan rasa ingin tahu, mendorong kemandirian dan ketepatan logika intelektual, serta menciptakan kondisi-kondisi untuk sukses dalam belajar (Muh. Ilyas I, 2010:45). Menurut abdul Azis (2014:51) guru memiliki kemampuan dalam menyusun rencana pembelajaran serta kemampuan dalam melaksanakan interaksi atau kegiatan pembelajaran.
Menurut Sutari Imam Barnadib, bahwa perbuatan mendidik dan dididik memuat faktor-faktor tertentu yang mempengaruhi dan menentukan, yaitu:
Adanya tujuan yang hendak dicapai.
Adanya subjek manusia (pendidik dan anak didik) yang melakukan pendidikan.
Yang hidup bersama dalam lingkungan hidup tertentu.
Yang menggunakan alat-alat tertentu untuk mencapai tujuan.

Pembahasan
Berikut ini beberapa yang mempengaruhi pendidikan dimana faktor yang satu dengan yang faktor lainnya, tidak bisa dipisahkan, karena kesemuanya saling mempengaruhi.
Faktor Tujuan
Setiap kegiatan apa pun bentuk dan jenisnya, sadar atau tidak sadar, selalu diharapkan kepada tujuan yang ingin dicapai. Bagaimanapun segala sesuatu atau usaha yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mempunyai arti apa-apa. Dengan demikian, tujuan merupakan faktor yang sangat menentukan.
Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Begitu juga dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju kearah cita-cita tertentu, maka yang merupakan masalah pokok bagi pendidikan ialah memilih arah atau tujuan yang ingin dicapai.
Cita-cita tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas, sehingga semua pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti pendidikan, bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai, maka prosesnya akan mengabur. Oleh karena itu tujuan tersebut tidak mungkin dapat dicapai secara sekaligus, maka perlu dibuat secara bertahap, misalnya tujuan umum, tujuan internasional, tujuan kurikuler dan tujuan instruksional ditetapkan secara jelas dan terarah.
Tentang tujuan ini, di dalam UU Nomor 2 Tahun 1989, secara jelas disebutkan Tujuan Pendidikan Nasional, yaitu:

“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan, jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”

Secara singkat dikatakan bahwa tujuan pendidikan nasional ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, dengan ciri-ciri sebagai berikut:
Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Berbudi pekerti luhur.
Memiliki pengetahuan dan keterampilan.
Sehat jasmani dan rohani.
Kepribadian yang mantap dan mandiri.
Bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa.

Fungsi Tujuan Bagi Pendidikan
Sebagai Arah Pendidikan
Tanpa adanya semacam antisipasi (pandangan ke depan) kepada tujuan, penyelewengan akan banyak terjadi, demikian pula kegiatan-kegiatannya pun tidak akan efisien. Dalam hal ini tujuan akan menunjukkan jalan yang harus ditempuh dari situasi sekarang kepada situasi berikutnya.
Dalam meninjau tujuan sebagai arah ini, tidak ditekankan pada persoalan kejurusan mana garis yang telah memberi arah pada usaha tersebut, tetapi ditekankan kepada masalah garis manakah yang harus ditempuh dala keadaan “sekarang dan disini” sebaga contoh, guru yang berkeinginan membentuk anak didiknya menjadi anak yang cerdas.
Tujuan Sebagai Titik Akhir
Suatu usaha tentu saja mengalami permulaan serta mengalami pula akhirnya. Mungkin saja ada usaha yang terhenti dikarenakan sesuatu kegagalan mencapai tujuan, namun usaha itu belum bisa dikatakan telah berakhir. Pada umumnya, suatu usaha baru berakhir jika tujuan akhirnya telah tercapai.
Dalam kaitan ini, yang diperhatikan adalah hal-hal yang terletak pada jangkauan masa datang, dan bukan pada situasi sekarang atau pada jalan yang harus diambil dalam situasi tadi. Misalnya, jika seorang pendidik bertujuan agar anak didiknya menjadi manusia yang berakhlak mulia, maka penekanannya di sini adalah deskripsi tentang pribadi akhlakul karimah yang diinginkan.
Memberi Nilai Usaha Yang Dilakukan
Dalam konteks usaha-usaha yang dilakukan, kadang kadang didapati tujuannya yang lebih luhur dan lebih mulia dibanding yang lainnya. Semua ini terlibat apabila berdasarkan nilai-nilai tertentu.

Macam-macam Tujuan Pendidikan
Pendidikan berlangsung dalam suatu proses panjang yang pada akhirnya mencapai tujuan umum atau akhir, yaitu kedewasaan atau pribadi dewasa susila. Tujuan yang bersifat umum ini akan dicapai melalui pencapaian tujuan-tujuan dekat.
Seorang ahli pendidikan, Langeveld mengemukakan macam-macam tujuan pendidikan, diantaranya: tujuan umum/ akhir atau lengkap/total, tujuan khusus, tujuan tak lengkap, tujuan sementara, tujuan insidentil dan tujuan intermedier.

Berikut ini akan dikemukakan secara singkat tentang tujuan-tujuan tersebut satu persatu.

Tujuan Umum
Ini merupakan tujuan menjiwai pekerjaan mendidik dalam segala waktu dan keadaan. Tujuan umum ini dirumuskan dengan memperhatikan hakikat kemanusiaan yang universal.

Tujuan Khusus
Tujuan ini merupakan pengkhususan dari tujuan umum di atas dasar bebrapa hal, di antaranya:
Terdapatnya perbedaan individual anak didik, misalnya perbedaan dalam bakat, jenis kelamin, intelegensi, minat dan sebagainya;
Perbedaan lingkungan keluarga atau masyarakat, misal: tujuan khusu untuk masyarakat pertanian, perikanan dan lain-lain;
Perbedaan yang berhubungan dengan pandangan atau falsafat hidup suatu bangsa.
Tujuan Tak Lengkap
Ini adalah tujuan yang hanya mencakup salah satu dari aspek kepribadian, misalnya: tujuan khusus pembentukan kecerdasan saja, tanpa memperhatikan yang lainnya. Jadi tujuan tak lengkap ini merupakan bagian dari tujuan umum yang meliputi perkembangan seluruh aspek kepribadian.
Faktor Pendidik
Pendidik ialah orang yang memikul pertanggung jawaban untuk mendidik. Dwo Nugroho Hidayanto, mengiventarisasi bahwa pengertian ini meliputi:

  • Orang dewasa;
  • Orang tua;
  • Guru;
  • Pemimpin masyarakat;
  • Pemimpin agama.
Secara umum dikatakan bahwa setiap orang dewasa dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidikan merupakan suatu perbuatan sosial, perbuatan fundamental yang menyangkut keutuhan perkembangan pribadi anak didik menuju pribadi dewasa susila.
Pribadi dewasa susila itu sendiri memiliki beberapa karakteristik, yaitu:
Mempunyai individualitas yang utuh
Mempunyai sosialitas yang utuh.

Kesimpulan

Pendidikan sebagai suatu bentuk kegiatan manusia dalam kehidupannya juga menempatkan tujuan sebagai sesuatu yang hendak dicapai, baik tujuan yang dirumuskan itu bersifat abstrak sampai pada rumusan-rumusan yang dibentuk secara khusus untuk memudahkan pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Begitu juga dikarenakan pendidikan merupakan bimbingan terhadap perkembangan manusia menuju kearah cita-cita tertentu, maka yang merupakan masalah pokok bagi pendidikan ialah memilih arah atau tujuan yang ingin dicapai.
Cita-cita tujuan yang ingin dicapai harus dinyatakan secara jelas, sehingga semua pelaksana dan sasaran pendidikan memahami atau mengetahui suatu proses kegiatan seperti pendidikan, bila tidak mempunyai tujuan yang jelas untuk dicapai, maka prosesnya akan mengabur. Oleh karena itu tujuan tersebut tidak mungkin dapat dicapai secara sekaligus, maka perlu dibuat secara bertahap, misalnya tujuan umum, tujuan internasional, tujuan kurikuler dan tujuan instruksional ditetapkan secara jelas dan terarah.


Daftar Pustaka

Azis, Abdul, 2014, Kompetensi Guru Dalam Penggunaan Media Mutu Pembelajaran
Hasbullah, 2011, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan(Umum dan Agama Islam), Jakarta: Rajawali Pers.
Jurnal, Lentera Pendidikan, vol 13 No 1
Jurnal, Medtek, vol 3 No 2
Jurnal, Pelopor Pendidikan, vol 5 No 1

Komentar